Friday, 30 November 2018

Outta My Comfort Zone


"There is no growth in comfort zone. There is no comfort in growth zone." Yup, setuju banget sama kalimat di samping. Tahun ini aku belajar tentang keluar dari zona nyaman di beberapa case, salah satunya pelayanan. Jadi, sudah beberapa bulan terakhir ini aku bergabung dalam pelayanan sosial media. Sebenernya dulu banget, kayaknya tahun lalu, offer ini sudah muncul, tapi aku tolak.



Dulu banget, aku itu aktif pelayanan sampai super sibuk pake banget. Alhasil, ada banyak hal yang terbengkalai, soalnya aku memang buruk banget di time management. Sejak saat itu, aku membatasi diriku sendiri untuk nggak terlalu sibuk. Nggak mau ikut ina inu, soalnya aku nggak mau keribetan gitu lho hidupnya.

Nah, terus semakin kesini aku belajar kalo aku jadinya nggak maksimal dalam apapun yang aku kerjakan, soalnya actually aku sendiri yang membatasi opportunity untuk mengembangkan talenta yang aku punya. Akhirnya ya, mulai awal tahun ini aku memberanikan diri untuk ambil beberapa kesempatan yang sudah ada di depan mata.


Contohnya, di sosial media ini. Aku sempet mikir bolak-balik, gimana ya, aku ambil nggak ya, lah kadang akun sosial media kerjaanku aja nggak keurus, mana bisa ngurus sosial medianya gereja. Aku takut mengecewakan temen-temen sepelayananku juga. Akhirnya aku ambil, soalnya kalo nggak dicoba kan nggak akan pernah tau hasilnya.

Turned out, sekarang aku dipercaya jadi ketua divisinya, karena dirasa aku kayaknya naturally enjoy ngerjain sosial media ini. Aku sama sekali nggak merasa sih sebenernya, aku cuma melakukan apa yang biasanya aku lakukan. Ini juga advanced level menurutku, jadi ketua itu bebannya berat banget, tapi yang aku percaya setiap pelayanan datangnya dari Tuhan. Pasti ini bukan suatu kebetulan.


Ikut terlibat dalam pelayanan atau suatu organisasi menurutku banyak dampak baiknya. Karakter kita pasti banyak diproses, karena dalam organisasi kita berhubungan dengan orang lain, jadi pasti ada gesekan. Nah, gesekan ini lah yang membentuk karakter kita. Kalo kalian sadar ada orang yang wataknya keras, suka semaunya sendiri, atau egois, perlu dilihat latar belakang hidupnya. Dia jadi orang yang seperti sekarang karena gesekan di masa lalunya.


Aku termasuk orang yang nggak suka sakit, nggak suka gesekan. That's why aku selalu jaga jarak sama temen-temen lainnya. Tapi aku juga belajar, kalo nggak ada gesekan aku nggak akan bertumbuh. Untuk apa sebenernya hidup di dunia ini? Apa sih esensi hidup? Harusnya nggak cuma mengejar kesuksesan yang dilihat orang, tapi lebih ke perubahan karakter dalam diri. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.


What I Wear :
Checkered Top from Tres Jolie | Skirt from somewhere at Atum
Sneakers from Onitsuka Tiger | Headphone from Swarovski | Waistbag from Stradivarius


So, that’s practically what I want to say. Thanks for reading. I hope you find this post useful. I’ll see you soon!

W R I T T E N   W I T H   L O V E   B Y
 

No comments:

Post a comment